Musee ID – Siapa, yang belum pernah dengar nama Kampung Ampel Surabaya? Kampung Ampel adalah kampung tua, yang awalnya bernama Ampel Denta. Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan zaman, Ampel Denta berkembang menjadi nama nama Ampel yang bervariatif. Ada Ampel Kembang, Ampel Suci, Ampel Kejeron, Ampel Menara dan Ampel Ampel lainnya, yang akhirnya membentuk unit Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya.
Secara geografis, Ampel Denta ini berada diantara dua sungai. Yaitu Kali Pegirian dan sungai Kalimas, yang memang merupakan kawasan permukiman sejak abad abad di zaman Majapahit. Ampel Denta adalah kawasan dimana Raden Rahmat beserta pengikut dari Trowulan datang dan menyebarkan agama Islam pada abad 15. Tanda kehadiran Raden Rahmat di abad 15 ini adalah masjid Ampel dan juga makam Sunan Ampel, yang berada di lingkungan masjid, serta beberapa gapura tua berbentuk paduraksa dengan tanda tanda peradaban sebagai legitimasi di eranya. Yaitu adanya simbol rempah rempah sebagai legitimasi produk dagang dan aksara Jawa sebagai legitimasi kecerdasan.
Sebagai pusat penyebaran dan pengajaran agama Islam, Ampel Denta menjadi jujugan banyak komunitas untuk datang dan belajar agama Islam. Enam ratus (600) tahun telah berlalu dan menjadikan Ampel sebagai wadah multikulturalisme Surabaya. Ada warga etnis Arab, Melayu, Tionghoa, Jawa, Madura, Makassar dan lainnya.
Ampel Denta
Sejak abad 19, Ampel Denta memang mulai berkembang sebagai pusat multikulturalisme Surabaya. Ampel, yang terletak di bagian utara Surabaya (kawasan pelabuhan) memang telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan keagamaan yang ramai, menarik berbagai kelompok etnis, terutama komunitas Arab dan Tionghoa, untuk menetap dan berinteraksi di sana.
Sejarah awal wilayah ini sangat terkait dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat), salah satu Wali Songo terkemuka, yang mendirikan Masjid Ampel dan pesantren di sana pada abad ke-15. Akhirnya, hal ini menjadikan daerah tersebut sebagai daerah tujuan wisata ziarah penting dan pusat penyebaran Islam.
Ramainya kawasan wisata religi Ampel, mulai dari pedagang dan pengunjung menjadi bukti hadirnya keberagaman. Para pedagang, yang menjejali jalan Ampel Suci dan Ampel Menara misalnya, datang dari berbagai daerah. Apalagi pengunjung yang datang berziarah juga sangat beragam karena makam Sunan Ampel umumnya menjadi persinggahan awal dalam rangkaian ziarah Wali Songo (9 wali).
Keberagaman Etnis
Dari bahasa daerah, yang mereka gunakan, terdengar beragam, tidak hanya bahasa Jawa dan Madura, tetapi ada pula bahasa Sunda, Cirebon dan bahasa dari tanah Sulawesi dan Kalimantan. Belum lagi mereka, yang berdatangan dari Mancanegara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Barang dagangannya pun beraneka ragam mulai dari pakaian dan perlengkapan ibadah hingga kuliner dan jajanan khas dari Arab seperti kurma dan kacang kacangan termasuk parfum. Kawasan Ampel ini akan penuh sesak ketika masuk bulan Ramadhan, khususnya pada hari hari dua puluhan. Sangat ramai.
Mahasiswa Jerman
Dinamika Ampel inilah, yang menjadi daya tarik mahasiswa dari Universitas Marburg Jerman. Setidaknya dalam satu tahun ada dua kali kedatangan. Yaitu di bulan Maret dan Agustus. Mereka mempelajari ilmu geografi sosial dan budaya secara praktis. Di antara ramainya Ampel Suci dan Ampel Menara, mereka berinteraksi dengan cara membeli produk produk mulai dari kurma hingga kain. Mereka berusaha saling berkomunikasi.
Arsitektur
Keberagaman Ampel ini juga tercermin dalam arsitektur bangunan yang memiliki ciri khas Timur Tengah dan Jawa dengan corak kolonial, serta dalam ragam kuliner khas Arab (seperti nasi kebuli, maryam, dan kambing guling) yang dijajakan di sana. Ada juga bakul bakul yang berjualan secara tradisional seperti penjual dawet, buah dan jajanan gorengan, seperti roti Maryam, samosa dan martabak serta tahu isi.
Keragaman ini menjadikan Ampel sebuah komunitas yang multietnis yang sekaligus sebagai cerminan kota Surabaya. (*)
(*) Nanang Purwono
