Musee ID – Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dikenal sebagai eks pusat kota Raja Majapahit. Letaknya sekitar 60 km di Barat Daya kota Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur.
Tempat ini sudah tidak asing bagi saya. Sejak tahun 1990 an sudah sering datang ke tempat ini sebagai bagian dari lahan pekerjaan di bidang budaya dan pariwisata. Ditambah memasuki tahun 2000 an Trowulan menjadi lahan dan buku dalam mengeksplorasi kota kuno sebagai bagian dari pekerjaan jurnalistik.
Selama 40 tahun terakhir itu selalu mencuat rasa ingin tahu seperti apakah kebesaran Majapahit. Peninggalan peninggalan yang ada masih bersifat serpihan masa lalu. Maklum zaman sudah berubah. Bayangan tidak mampu melukiskan kebesaran yang digambarkan oleh Negarakertagama.
Negarakertagama adalah sebuah kakawin (puisi Jawa Kuna) penting dari masa Kerajaan Majapahit, ditulis oleh Mpu PrapaƱca pada tahun 1365 Masehi. Puisi Jawa ini mengisahkan kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dan sekaligus memberikan deskripsi rinci tentang struktur pemerintahan, sosial, agama, dan wilayah kekuasaan kerajaan tersebut pada puncak kejayaannya.
Kitab ini juga dikenal sebagai Desawarnana dan menjadi sumber utama untuk memahami sejarah dan kebesaran Majapahit. Sayang kebesaran Majapahit yang dideskripsikan oleh Negarakertagama belum bisa sempurna oleh penggambaran faktual di lapangan (situs) sebagai sisa dan peninggalan Majapahit. Fakta dan ilustrasi Negarakertagama tidak sama. Pengunjung dituntut untuk membayangkan berdasarkan fakta fakta artefak yang ada. Ini terjadi tatkala sedang memandu rombongan wisatawan di beberapa situs Majapahit.
Jika dihitung sejak 40 tahun terakhir, berapa banyak orang yang bisa membayangkan kebesaran Majapahit sebagaimana dideskripsikan oleh Negarakertagama? Mereka hanya membayangkan berdasarkan situs situs, yang tidak utuh dan serpihan ribuan artefak di Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang umum diketahui sebagai Museum Trowulan. Pemahaman tentang tempat penyimpanan koleksi saja tidak sama apakah itu Pusat Informasi Majapahit (PIM) atau Museum. Apalagi tentang kebesaran Majapahit.
Karenanya perlu ada cara bagaimana bisa mendeskripsikan kebesaran Majapahit, setidaknya berdasarkan sumber otentik Negarakertagama. Selama ini ada beberapa film dan video yang telah bertebaran di sosial media yang dibuat berdasarkan teknologi AI.
Kecerdasan Buatan (AI) memang memiliki sifat meniru kemampuan intelektual manusia seperti belajar, penalaran, dan pengambilan keputusan, dan cara kerjanya melibatkan penggunaan data dalam jumlah besar yang diproses oleh algoritma canggih, terutama melalui machine learning. Hasilnya bisa berupa data teks dan gambar serta film atau video.
Semua hasil itu adalah hasil proses dari banyaknya data (teks maupun gambar serta film) yang terkumpul. Semakin lengkap datanya juga masih tergantung pada prompt (permintaan atau instruksi) yang diajukan. Pemohon pun harus cermat dalam pengajuan.
Selama ini, 40 tahun, sudah ada beberapa hasil penggambaran dari AI. Namun ada satu, yang menurut saya lebih realistik dalam penggambaran Majapahit yang dibuat berdasarkan Negarakertagama. Film atau video itu adalah hasil produksi SMC Mediavisitama. Judulnya adalah Majapahit di Puncak Kekayaan, Episode I.
Dari video itu, maka muncul komparasi dari apa yang ada di film dan fakta fakta lapangan. Ada realistisnya. Apalagi hasil sinematografinya bagus.
Sinematografi adalah seni dan ilmu menangkap gambar bergerak untuk bercerita secara visual, mencakup aspek teknis seperti pencahayaan, komposisi, pemilihan lensa, dan pergerakan kamera untuk menciptakan suasana, emosi, dan makna dalam film atau media visual lainnya.
Sekali lagi, hasil AI adalah hasil prompt (permintaan atau instruksi) yang diajukan. Saya menikmati film yang saya terima pada Senin pagi (5/1/26).
Selain hasil AI, adalah upaya praktis dan nyata untuk menyelesaikan satu situs sehingga nampak dan menjadi representasi kebesaran Majapahit? (*)
(*) Nanang Purwono